Sejarah aceh dan Malaysia bersahabat


Aceh-Malaysia sudah lama bersahabat.


Aceh dan Malaysia telah menjalin hubungan sejak zaman kerajaan Aceh, banyak tokoh dari Aceh yang datang ke Malaysia untuk membantu baik dalam melawan penjajah maupun dalam penyebaran agama islam.

Hal itu disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA pada sambutannya dalam penyambutan kunjungan Pengajar dari Institut Kemahiran MARA Sik Kedah dan Sekolah Kebangsaan Agama Wataniah Kelantan Malaysia, Kamis (5/6) di Ruang Sidang lantai 2 Biro Rektor kampus setempat.
Menurutnya, hubungan antara Aceh dengan Malaysia dapat dilihat pada banyak sejarah yang menuliskan tentang persahabatan antara orang Aceh dengan orang Malaysia, selain itu juga ada tokoh Aceh Syamsuddin As-Sumatrani yang menyebarkan ajaran islam di Malaysia sampai akhit hayatnya dan dimakamkan di Malaka sebuah Negara bagian di Malaysia, dan makamnya mencapai 13 meter.
"Aceh dan Malaysia sangat erat ikatan persaudaraan, banyak orang Aceh telah menetap di Malaysia, bahkan di sana ada namanya Kampung Yan yang lebih dikenal dengan sebutan Kampong Aceh, dan ini sudah ada sejak tahun 1925," kata Farid.
Selanjutnya Rektor menambahkan, setelah selain Syamsuddin dan beberapa tokoh lainya, Sultan Iskandar Muda juga dating ke Malaysia untuk membantu dalam melawan penjajahan, sehingga ini tercatat dalam sejarah bahwa hubungan Aceh dengan Malaysia telah terjalin sejak kepemimpinan kerajaan Aceh sejak zaman dulu.
Prof Farid Wajdi juga mengatakan, bahwa Allah telah menjanjurkan kepada ummat manusia untuk terus berjalan di Bumi Allah untuk melihat bagaimana perkembangan zaman yang semakin hari semakin berkembang, selain itu juga diceritakan tentang budaya di Indonesia.
Terkait hubungan Malaysia dengan UIN Ar-Raniry, Rektor mengatakan, sampai saat ini UIN terus memberikan kesempatan kepada pelajar Malaysia untuk melanjutkan pendidikannya di kampus UIN Aceh ini, bahkan kepada mahasiswa luar negeri UIN Ar-Raniry juga menyediakan beasiswa.
"UIN Ar-Raniry sangat member kesempatan kepada pelajar Malaysia untuk melanjutkan kuliah di UIN Ar-Raniry, untuk masuk dibuka dua jalur yaitu jalur tes (ujian) masuk, pelajar ini masuk pada semester pertama hingga selesai, sedangkan jalur kedua diberi kesempatan untuk melanjutkan, yaitu jalur transfer yang diajukan oleh kampus-kampus di Malaysia," ujar Prof Farid.
""lihat bukti sejarah aceh dan Malaysia di https://m.youtube.com/watch?v=LTXV4gHR0uU""
Sementara Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan dan kerjasama Dr. H. Syamsul Rijal, M.Ag menyebutkan, pertemuan itu dihadiri dua rombongan yang berbeda, pertama rombongan dari Institut Kemahiran MARA Sik Kedah dan Sekolah Kebangsaan Agama Wataniah Kelantan Malaysia, kedatangan mereka disambut oleh Rektor dan hadir sejumlan Wakil Dekan dan pejabat UIN Ar-Raniry.
"Dalam rangka mengahadapi tantangan global dalam peralihan status IAIN menjadi UIN, tentu harus ambil bagian untuk memajukan dunia pendidikan, langkah sinergitas dengan lembaga lainnya terus dilakukan, menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan lainnya, ujar Syamsul.
Warek III menegaskan, menjalin kerjasama dengan lembaga lain akan sangat menentukan bagi perkembangan kedua lembaga, UIN Ar-Raniry dengan segala potensi yang ada siap mendidik kaum intelektual yang respons dengan tantangan global.
"UIN Ar-Raniry terus memberikan kesempatan kepada siapa saja yang ingin melanjutkan kuliah di kampus ini, tentu dengan melewati dengan berbagai tes dan seleksi ujian masuk, untuk mahasiswa luar negeri juga diberi kesempatan yang sama, bahkan disediakan jalur khusus dan peluang ini harus dipergunakan dengan baik oleh kampus yang ada di Malaysia," kata Dia.
Pada kesempatan itu, ketua rombongan dari MARA Sik Adanan bin Hussin mengatakan, kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung kampus yang menjadi kebanggan masyarakat Aceh, menurutnya banyak hal yang harus dicontohkan oleh pengajar yang ada di kampus Malaysia.
"Kami melihat proses belajar mengajar di Kampus UIN Ar-Raniry ini dapat menjadi rujukan bagi tenaga pegajar dan mahasiswa di Malaysia, yang belajar di UIN sangat terbuka,

Comments